fbpx
Willy Pujo Hidayat

Menghitung Kapan Bisnis Balik Modal (dengan contoh kasus)

Contents

Beberapa orang yang ingin membuka bisnis, biasanya obrolannya seputaran modal.

“Berapa modal buat buka kafe ya?”

menghitung kapan bisnis balik modal dengan rumus dan contoh kasus sederhana

Setelah itu mulai cari orang orang yang mau ikut urunan buka kafe, supaya modal yang keluar perorang tidak terlalu besar.

Obrolannya tidak jauh jauh dari modal, atau sumbangsih apa yang bisa Anda berikan untuk memulai bisnis ini.

Kata memulai saya bold untuk memberikan kesadaran, bahwa memang benar bisnis itu perlu dimulai.

Namun yang lebih penting dari itu, bisnis itu harus dihitung.

Menghitung Kapan Bisnis Balik Modal

Breakeven Point

Istilah keren dari balik modal adalah Titik Impas atau Breakeven Point (BEP).

Menurut beberapa sumber, definisi dari Breakeven point adalah keadaan dimana tingkat penjualan atau pendapatan yang diperoleh dari modal yang digunakan untuk menghasilkan laba berada dalam posisi yang sama.

definisi breakeven (BEP) - menghitung kapan bisnis balik modal dengan rumus dan contoh kasus sederhana

Dengan kata lain, titik impas terjadi ketika total pendapatan dari penjualan sama persis dengan total biaya produksi.

Pada keadaan ini, perusahaan tidak mengalami kerugian maupun keuntungan. Titik impas digunakan untuk merancang laba yang akan diperoleh oleh perusahaan.

Tidak untung dan tidak rugi, ini adalah titik awal dari keuntungan yang akan Anda cetak dari bisnis Anda.

Data Real vs Imaginer

“Things are created twice”

Begitu kurang lebih kutipan dari buku panutan saya, 7 Habits of Highly Effective People, karya Steven R. Covey.

Secara harfiah, artinya dari kalimat tersebut adalah “Sesuatu diciptakan 2 kali”.

Namun secara esensi, kalimat tersebut memiliki makna yang berarti sesuatu itu perlu dikonsep dengan matang.

“Penciptaan Pertama” yang dimaksud adalah secara konsep yang matang.

Kalau Anda ingin berbisnis, maka di atas kertas, bisnis Anda harus sudah untung terlebih dahulu.

“Tapi kan nanti di lapangan tidak begitu wil”

Benar, namun kalau di atas kertas saja atau secara konsep saja bisnis Anda tidak tau mau dapat untung dari mana, bagaimana Anda bisa menerapkannya di bisnis nyata?

Setelah matang pada “Penciptaan pertama” maka baru pada penciptaan selanjutnya-lah strategi tersebut diimplementasikan.

Kedua penciptaan tadi adalah berdasarkan data yang “Real” dan data yang “Imaginer”.

Data real adalah data yang Anda gunakan untuk item item yang nyata (tangible), seperti misalnya :

  • Biaya produksi
  • Biaya investasi
  • Biaya operasional

Data itu merupakan data yang angkanya riil, dengan estimasi meleset yang kecil dan bisa diprediksikan.

Sedangkan data data imaginer adalah data data yang sifatnya asumtif, data yang muncul berdasarkan dari pengalaman, dan trend yang terjadi di lapangan, misalnya :

  • Proyeksi omset setahun.
  • Potensi besaran “pasar”.
  • Estimasi pertumbuhan penjualan.
  • dsb

Semua data yang angkanya asumtif, dan ada kemungkinan bergeser dengan sangat tajam, dan kadang di luar dari apa yang diprediksikan.

Menghitung kapan bisnis balik modal, adalah gabungan antara kedua data tersebut, namun dengan sedikit imajinasi.

Rumus Balik Modal

Secara teori, menghitung kapan bisnis balik modal sepertinya tidak begitu sulit.

Semudah menghitung, besaran modal dan besaran pemasukan.

Kalau besaran pemasukan sama dengan besaran modal, maka bisnis sudah balik modal.

Kalau besaran pemasukan lebih banyak dari modal, maka bisnis bisa dipastikan untung.

Kalau besaran pemasukan lebih sedikit dari modal, maka bisnis bisa dipastikan rugi.

Anggaplah total modal dan operasional bisnis selama setahun membuka kafe adalah 100 juta, dan omset atau pemasukan Anda setahun 100 juta, maka Anda ada di titik impas :

Rp. 100 Juta (modal + operasional) – Rp. 100 Juta (omset) = Rp. 0

Rumus ini terlihat sederhana, namun menimbulkan pertanyaan :

  • Masa harus tunggu setahun dulu baru ketahuan?
  • Kalo hasil akhirnya Rp. 0, ngapain bisnis? ga nambah duitnya?
  • Ga bisa keliatan lebih awal estimasinya?

Kalau pertanyaannya, APAKAH bisnis saya balik modal?

Maka rumus tersebut bisa dengan mudah diterapkan, terlepas dari kompleksnya perhitungan modal dan operasional.

Kalau pertanyaannya : KAPAN?

Maka kita akan masukkan angka angka asumtif.

Kapan bisnis balik modal

Pertanyaan terkait penetapan waktu tertentu ini menarik, semi semi nerawang ke masa depan.

Ada beberapa parameter perhitungan yang sifatnya asumtif.

Asumtif di sini bisa datang dari ilmu kira kira dan pengalaman sebelumnya (empiris).

Ilmu kira kira ini bisa datang dari data kompetitor atau data yang betul betul sifatnya mengawang-awang.

Beberapa data seperti :

  • Asumsi rata-rata pembelian per bulan
  • Asumsi rata-rata pembelian per orang

Data-data tersebut, lagi, merupakan data yang asumtif atau berdasrkan ilmu kira kira atau ambil sampel dari data sebelumnya.

Kita mulai case pertama.

Contoh Kasus #1

contoh kasus di bulan ke berapa bisnis kafe balik modal - menghitung kapan bisnis balik modal dengan rumus dan contoh kasus sederhana

Kafe sudah berjalan 3 bulan, dengan rata rata pemasukan per bulan yaitu Rp. 50 juta.

Biaya produksi (Cost of Good Sold) adalah 50% dari total omset per bulan.

Biaya sewa gedung sudah setahun, biaya modal investasi lainnya, total sekitar 300 juta.

Dengan data data tersebut, kita bisa menghitung estimasi, kapan kafe tersebut bisa balik modal.

Formula :

  • Total profit kotor = Rp. 50 juta – 50% = Rp. 25 juta / bulan.
  • Total modal keluar = Rp. 300 juta
  • Rp. 300 juta / 25 juta perbulan = 12 bulan.

Berarti, dengan asumsi gross profit Rp. 25 juta perbulan, maka estimasi bisnis kafe Anda akan balik modal dalam kurun waktu 12 bulan.

Angka tersebut bisa lebih cepat atau lebih lambat dari 12 bulan, misal :

  • Penambahan omset akibat acara Buka puasa bersama.
  • Penambahan omset akibat acara Nonton bareng / arisan.
  • Penurunan omset karena setelah lebaran (customer pada pulang kampung).
  • Penurunan omset karena Pandemi.
  • dsb

Banyak variabel yang tidak bisa kita kontrol sebagai pebisnis, bisa saja kita bisa balik modal lebih cepat dari perhitungan.

Kalau memang skemanya berlangsung demikian, maka pada bulan ke 13, Anda sudah mulai mencetak keuntungan.

Contoh kasus #2

contoh kasus di gelas ke berapa bisnis kafe balik modal - menghitung kapan bisnis balik modal dengan rumus dan contoh kasus sederhana

Kafe Anda sudah berjalan 3 bulan, dengan rata-rata penjualan setiap bulan Rp. 50 juta dari 200 orang yang datang.

Biaya produksi 50% dari omset, dan total sewa gedung dan investasi lainnya Rp. 300 juta.

Dari data tersebut kita kita hitung, di pelanggan ke berapa bisnis kita balik modal :

Formula :

  • Rata-rata pembelian (Average Order Value) per orang = Rp. 50 juta / 200 orang = Rp. 250.000 per orang
  • Gross profit per orang = Rp. 250.000 – 50% = Rp. 125.000
  • Rp. 300 juta / Rp. 125.000 = 2.400 orang

Dengan asumsi rata rata belanja per orang Rp. 250.000, maka bisnis Anda akan balik modal pada pengunjung ke-2.400.

Pada kunjungan ke 2401, Anda sudah mulai mencetak keuntungan.

Juga, Angka tersebut bisa lebih cepat maupun lebih lambat, kita bisa atur strategi seperti :

  • Memperbesar AOV dari Rp. 125K, menjadi Rp. 200K dengan cara menjual paket.
  • Memperbesar AOV dengan menjual menu bundling.
  • Dsb

Contoh kasus #3

contoh kasus melihat potensi pasar dan menghitung BEP - menghitung kapan bisnis balik modal dengan rumus dan contoh kasus sederhana

Pada contoh kasus ini, Anda bahkan belum memulai bisnis.

Anda ingin membuat kafe di sepanjang jalan A, karena Anda melihat sepertinya hanya ada 1 kafe yang buka dan cukup padat.

Anda bermaksud untuk mengambil pangsa pasar kafe tersebut sebesar 50%.

Anda mulai nongkrong dan sedikit melakukan reset kecil kecilan di kafe tersebut.

Dari hasil nongkrong dan riset kecil kecilan, Anda mendapatkan data sebagai berikut :

  • Dalam 1 jam, rata rata ada 30 orang yang berkunjung.
    • (kosong di hari kerja, dan membludak di akhir pekan)
  • Produk yang ramai di pesan adalah es kopi kekinian senilai Rp. 25.000
  • Asumsi COGS di 60%.
  • Biaya sewa ruko di jalan ini Rp. 100 juta per tahun.
  • Dia menggunakan mesin kopi X, kompor Y, tema dekorasi Z.

Dari data tersebut, Anda bisa menghitung berapa omset setahun dari kafe ini :

  • Kafe ini buka 10 jam, berarti ada 300 orang per hari yang berkunjung.
  • Total AOV * jumlah kunjungan :
    • Rp. 25.000 * 300 orang = Rp. 7.500.000 per hari.
    • Atau Rp. 225 juta per bulan
  • Biaya sewa dan investasi alat kopi dsb sekitar = Rp. 300 Juta.
  • Gross profit = Rp. 225 juta – 60% (COGS) = Rp. 90.000.000
  • Rp. 300 juta / Rp. 90 juta per bulan = 3,3 bulan

Bisnis in cukup potensial untuk Anda duplikasi, karena dengan perhitungan kasar tersebut, Anda sudah bisa balik modal dalam 3-4 bulan.

Anda tinggal membuat strategi marketing yang bisa menarik, paling tidak 50% dari total kunjungan atau omset mereka selama setahun.

Well, tentu itu adalah bab lain yang bisa kita bahas.

Kesimpulan

Bisnis harus dilandaskan pada perhitungan yang matang, tidak asal sekedar buka dan asal punya resep enak, apalagi sekedar ikut ikutan saja.

Balik modal atau Break Even Point merupakan titik penting bagi bisnis apapun yang Anda jalankan.

Semakin jauh titik Break Even tersebut, maka semakin lama Anda harus ‘puasa’ dari nikmatnya liburan, karena secara teknis, bisnis Anda masih merugi.

Beberapa skema perhitungan di atas bisa Anda terapkan di bisnis Anda baik yang baru mau memulai, maupun yang sudah dimulai.

Merasa Terbantu? Share lah, kasih tau yang lain jangan pelit pelit :
Topik
Partnership
Ngobrol
Podcast
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.