fbpx
Willy Pujo Hidayat

Mengukur Harga Sebuah Keringat

Satu ketika, kami sekeluarga benar-benar sibuk sehingga tidak ada waktu sama sekali untuk membereskan halaman rumah.

Baik itu memotong rumput, menyapu sampah dedaunan, menyingkirkan buah-buahan yang jatuh di tanah, dan kegiatan lainnya.

Kami cukup terganggu dengan kondisi berantakan seperti itu, sedangkan kami tidak ada waktu untuk membereskannya.

Akhirnya kami putuskan untuk membayar bapak tetangga kami yang biasa membersihkan kebun orang lain.

Datanglah beliau dengan peralatannya yang sederhana seperti arit, sapu lidi dan pengki.

Mengukur Kerapihan

Tolong ya pak” kata kami yang menaruh harapan padanya agar taman ini bisa bersih kembali sebagaimana mestinya.

Dengan sigapnya beliau mulai memotong rumputnya, menyapu halaman dan membereskan hampir setiap sudut taman ini.

“Bersih ya? rapih” kata ibu saya menilai kinerja bapak ini.

Kemudian Ibu saya menimpali dengan pertanyaan lain “Bayar berapa nih? 50.000 cukup?

Kurang, 150.000 ini mah, orang dia rapih banget kerjanya, halaman ini juga luas” kata ayah saya mengoreksi.

Setelah selesai, kami memberikan 150.000 ke si bapak tadi.

Terima kasih ya pak, bu, mas” kata si bapak tadi berpamitan.

Kemudian saya bertanya ke bapak saya terkait biaya yang dia keluarkan untuk membayar tadi.

Dari mana bapak mengukur itu 150.000?

Dia kerjanya rapih, halaman kita juga luas, cukup kok segitu” bapak saya menjawab.

Ya, jawaban yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan saya tentang bagaimana mengukur harga sebuah keringat.

Tak Sebanding

Dari sudut pandang yang mirip, sahabat saya, seorang tenaga kesehatan mengeluh.

Gaji lewat doang wil” kata dia menyampaikan dengan nada yang sedikit rendah ke saya.

Dengan sedikit penasaran saya bertanya “tenaga kesehatan bukannya gede banget gajinya? kan menyangkut hidup mati seseorang?!

Tertawa kecut darinya menjadi balasan dari statemen saya tersebut.

Kalo dokter mah enak” katanya menimpali.

Sekolah susah susah, bayar mahal mahal, kerjanya shift, salah dikit pasien kasian, gajinya begini doang, gua mau kerja kantoran aja lah” kata nya.

Lagi, berapa harga sebuah keringat, ilmu dan layanan yang sahabat saya ini lakukan yang pantas dia terima?

Ongkos Jasa?

Seperti ketika datang ke sebuah klinik, minta tolong untuk diukur tensi atau tekanan darahnya.

Dengan sigapnya penjaga kliniknya langsung membalut tangan saya dengan kain tensi, dan mulai memompakan udara ke dalamnya.

120 per 80 mas, normal” katanya diiringi dengan suara mengempisnya udara di kain tensi tadi.

Kemudian saya membayar sejumlah uang untuk menghargai jasa yang dia lakukan.

Ya, lagi, bagaimana mengukur nilai yang pantas untuk sekedar memompakan udara ke lengan, kemudian mendengarkan denyut pembuluh darah menggunakan stetoskop?

Masih tidak masuk di otak saya bagaimana cara hal itu bisa terjadi.

Tangible & Intangible

Berbisnis jasa mungkin bisa dibilang salah satu bisnis yang menarik, karena keuntungan yang masuk hampir 90% utuh.

Mengapa demikian?

Karena tidak ada biaya untuk produksi yang dikeluarkan sama sekali.

Biaya apa yang dikeluarkan bapak tukang kebun untuk membabat habis semua rumput di halaman?

Hampir tidak ada, bukan?!

Mengapa bisa tenaga kesehatan biasa dengan dokter diberikan nilai yang berbeda? bahkan sampai dia memutuskan untuk menyudahi karirnya sebagai penolong di rumah sakit?

Berapa nilai yang pantas mereka terima?

Ya, jasa memotong rumput, jasa seorang perawat, jasa seorang dokter, jasa seorang penjaga klinik itu adalah produk yang tidak terlihat.

Produk jasa adalah produk yang intangible.

Artinya Anda tidak bisa memiliki produknya, tapi Anda bisa mendapatkan manfaatnya.

Berbeda dengan membeli mobil yang setelah Anda membayarnya, mobil itu seutuhnya jadi milik Anda (tangible).

Produk Intangible berbeda !

Ada jarak atau gap yang sangat rawan di pengelolaan produk intangible ini.

Pemilik bisnis atau user ingin membayar yang paling murah, sedangkan pemilik jasa ingin dibayar lebih.

Ya, mencari titik equilibrum dari kedua sisi di atas memang cenderung sulit.

Salah-salah. satu diantara mereka akan kecewa.

Masa begini doang 100.000, kemahalan” kata user yang menikmati jasa tersebut.

Kerjain aja sendiri kalo bisa” kata pemilik jasa yang tidak terima nilainya dibilang mahal.

Menurut Anda, bagaimana mengukur upah atau jasa yang sesuai?

Merasa Terbantu? Share lah, kasih tau yang lain jangan pelit pelit :