fbpx
Willy Pujo Hidayat

Strategi Marketing : 2-15

Entah dari mana orang ini mengetahui dan mengimplementasikan strategi marketing legendaris ini.

Namun momen, segmentasi dan produk yang dijual olehnya cocok menggunakan strategi ini.

Begini..

Beberapa waktu lalu saya bersama istri pulang dari pasar di pagi hari untuk berbelanja mingguan.

Setelah beberapa saat setelah motor kami meninggalkan loket parkir, istri saya mengajak saya menepi.

Di situ mas” kata istri saya sambil menunjuk lapak abang penjual masker, dan meminta saya berhenti di sana.

Bukannya kamu pake masker medis? kok masih cari yang kain?” kata saya heran.

Dia mengkonfirmasi kalau yang dicarinya bukan maskernya, melainkan sambungan masker.

Ya, sesekali telinga kita lelah tarik menarik dengan masker, dan penyambung ini sangat berguna untuk menghubungkan dan melingkarkan pengait masker tersebut ke belakang kepala, bukan ke telinga.

Singkat cerita kami berhenti di sana, dan istri saya mulai memilih sambungan masker yang cocok dengan model kerudung dan baju yang dia miliki.

(Ya, wanita selalu ingat baju apa, warna, bahan pakaian apa yang mereka miliki, serta kapan terakhir mereka menggunakannya. Ajaib)

Saya mengamati dari atas motor dan melihat gerak geriknya sepertinya sudah menentukan produk mana yang akan dia beli.

Sambil tangannya memegang salah satu produk yang tergantung di rak tersebut dia bertanya kepada abang penjualnya :

“Berapaan bang?”

Jawaban dari abang setelah ini menjadi tanda tanya besar bagi saya.

Bahkan saya masih geleng geleng kepala kalau masih ingat atas jawabannya.

Alih alih dia memberikan harga yang tepat untuk satu produk tersebut, dia malah menjawab :

“2 – 15”

Kok bisa?

Jawaban apa ini?

Siapa dia?

Belajar marketing dari mana?

Heran kan?

Sama, saya juga seperti Anda setelah mendengar jawaban si abang penjual (sambungan) masker.

Dia bilang “2 – 15” yang artinya :

| Dua produk sambungan masker, berharga Rp. 15.000

Pertanyaannya adalah kenapa dia (abang masker) tidak langsung saja memberikan harga pas untuk 1 produk?

Dia malah menjawab dengan harga untuk 2 produk.

Yang akhirnya membuat pembeli seperti terdorong untuk membeli tidak hanya 1, melainkan minimal 2 pcs.

Bisa ditebak?

Ya, istri saya membeli 4 pcs, karena dia berhasil menawar.

Strategi 2-15 ini cukup legendaris di kalangan praktisi bisnis atau marketing.

Beberapa menyebutkan product bundle, beberapa lagi menyebutnya upselling.

Maknanya kurang lebih memberikan harga untuk kumpulan produk tertentu.

Pada strategi bundling product, maka umumnya produk populer akan dikombinasikan dengan produk promo atau produk yang kurang populer.

Sama juga dengan up selling, yang bertujuan meningkatkan nilai rata rata pembelian pelanggan.

Kalau pelanggan bermaksud membeli 1 unit sambungan masker dengan harga Rp. 8.000 – Rp. 10.000 (misal), maka dengan up selling mereka cukup memberikan harga Rp. 15.000 untuk 2 pcs produk.

Terlihat jauh lebih menarik dan lebih hemat bukan?

Marginnya mungkin akan sama atau bisa jadi lebih kecil beberapa persen.

Kalau HPP atau cost price-nya Rp. 5.000 per pcs, maka kalau dia menjual Rp. 8.000 per pcs, dia akan mendapatkan keuntungan Rp. 3.000, namun belum termasuk harga nego yang kemungkinan besar akan dilakukan segmen marketnya.

Nilai Rp. 8.000 itu ganjil atau asing, orang tidak biasa mendengarnya, bukan nilai yang diharapkan.

Kemungkinan besar mereka akan nego ke expected number yaitu di kisaran angka bulat Rp. 5.000.

Dengan plus minus akurasi di Rp. 1.000 – Rp. 2.000 rupiah, maka mungkin minimal dia akan mendapatkan Rp. 4.000 untuk 2 produk yang dibeli secara terpisah, tanpa bundling.

Dengan bundling, dia mungkin akan mendapatkan margin Rp. 5.000 untuk setiap paket produk terjual.

Terlihat mirip atau mungkin terlihat sedikit lebih besar, bukan?

Strategi 2-15 adalah kejeniusan yang digunakan oleh abang masker untuk membuat produknya “diborong” dengan cara yang elegan.

Bagaimana menurut Anda?

Merasa Terbantu? Share lah, kasih tau yang lain jangan pelit pelit :