fbpx
Willy Pujo Hidayat

Demi Konten : Kontroversi, Sensasi dan Monetisasi

Demi Konten : Kontroversi, Sensasi dan Monetisasi – Akhir-akhir ini saya melihat aktifitas yang cukup aneh litas sosial media.

Entah apa yang ada di pikiran mereka sehingga aktifitas-aktifitas “tak lazim” ini terjadi antar platform sosial media.

Saya bilang lintas platform karena memang itu yang terjadi.

Setelah saya telusuri, saya dapat menyimpulkan satu hal.

Hal-hal aneh yang terjadi belakangan ini dilakukan untuk satu alasan, yaitu :

Demi Konten

Segila itu kah konten menggiring mereka untuk melakukan hal-hal tidak wajar tersebut?

Sebetulnya apa dampak yang akan mereka dapatkan setelah melakukan aktifitas “demi konten” tersebut?

Demi Konten : Kontroversi, Sensasi dan Monetisasi

Sosial Media

Memiliki satu wadah dimana kita bisa mengekspresikan apa yang kita inginkan adalah hal yang menyenangkan.

Bahkan hal itu lebih menjadi sangat menyenangkan dan menarik ketika banyak orang yang melihatnya dan mengapresiasinya.

Hampir tidak mungkin sekarang kita memposting foto atau apapun di sosial media hanya untuk konsumsi pribadi.

Nyaris tidak mungkin !

beneran wil, Instagram gw di private, supaya ga semua orang bisa lihat

Hei.. halooo??

Kalau emang begitu tujuannya, jangan upload di sosial media.

Upload di Google Drive Sana !

Yang hanya memungkinkan Anda yang punya akun gmail tersebut yang bisa melihatnya.

Seperti yang tadi saya sampaikan, nyaris tidak mungkin menemukan orang yang memposting hanya untuk konsumsi pribadi.

Anda akan jauh lebih senang kalau banyak yang menyukai kegiatan yang Anda post di sana.

Hal ini cukup menciptakan efek adiktif alias candu.

Anda akan mencari hal hal lain yang nantinya bukan ekspresi natural Anda.

Karena orientasi Anda sudah berbeda.

Kita bukan lagi memposting kegiatan yang kita sukai, melainkan kegiatan yang follower Anda sukai.

Kita bukan lagi memposting kegiatan yang kita sukai, melainkan kegiatan yang follower Anda sukai.

lebih dari itu, Anda melakukan apa yang orang populer lakukan.

Supaya apa?

Supaya Anda bisa mendulang banyak interaksi terhadap konten Anda.

Sosial Media hampir membuat saya, Anda, kita semua, atau bahkan dunia ini menjadi gila !

Iya gila !

Terlebih sejak kehadiran aplikasi joget-joget itu..

Ya, sepertinya ada yang salah.

Anda setuju?

Prank?

Saat artikel ini ditulis, ada beberapa pembuat konten yang tersandung masalah hukum.

Untuk aktifitas “aneh” yang mereka lakukan.

apa itu?

Prank !

Saya hampir tidak menemukan sisi pembenaran dari konten prank.

Entah itu hanya untuk lucu-lucuan, seru-seruan atau bahkan untuk kebaikan.

Ya, nge-prank untuk hal hal baik.

Seperti ngeprank order ojek online bernilai tinggi, kemudian berpura-pura tidak tahu, abangnya nangis, dikasih duit !

Apa?

Apa sisi faedah dari prank yang ujungnya mau ngasih sesuatu ke orang lain?

Pada level yang paling”receh” saja, saya tidak suka ada akting-akting khusus untuk merayakan ulang tahun seseorang.

apa sih tujuannya? apaaa????

mau buat surprise wil !

Bodo amat !

Konten Prank ini yang paling banyak menuai kontroversi.

Sekali lagi, apa tujuan mereka membuat prank tersebut?

Lagi, semua demi konten.

Artifisialisasi / Plagiasi

Saking gilanya dengan interaksi, banyak diantara para pembuat konten yang melakukan semua hal.

Termasuk diantaranya melakukan sesuatu yang dibuat-buat.

Twitter belakangan ini cukup ramai kisah kisah depresi seseorang dengan konten yang fotonya diambil dari google.

Quora pun banyak penulis anonim yang mungkin ceritanya sedikit tidak masuk akal, alias mungkin dibuat-buat.

Bahkan sesekali tertangkap melakukan plagiasi dari konten blog orang lain.

Instagram?

Kepalsuan di Instagram leih dari segalanya.

Mungkin beberapa pengguna Instagram tidak memalsukan konten, melainkan memalsukan kehidupannya.

Liburan padahal nanti bayarnya (paylater).

Tampak bahagia padahal memendam duka.

Ah.. itulah kenapa saya memilih untuk keluar dari Instagram selama setahun ini.

Demi apa?

Demi interaksi..

dan tentunya..

Demi Konten.

Seteru Konten Lintas Sosial Media

Setiap netizen di sosial media, memiliki karateristiknya masing-masing.

Netizen twitter akan “julid” terhadap konten instagram.

Sebaliknya, netizen Instagram akan “merendahkan” konten twitter yang receh-receh itu.

konten apa sih? ga ngerti” kata netizen Instagram.

Aksi orang orang di Tiktok ternyata cukup disenangi oleh netizen twitter dan Instagram.

Banyak netizen dari kedua sosial media tersebut yang memposting ulang (repost) konten Tiktok ke “basecamp” mereka.

Quora pun sebagai sosial media yang dianggap “serius” pada beberapa tulisan ternyata cukup digemari oleh netizen twitter.

Acap kali netizen twitter mengambil tangkapan layar (screenshot) tulisan di Quora ke twitter.

kemudian viral.

Quora tidak terima kontennya direproduksi seperti itu.

Topik twitter yang mereproduksi konten pun ramai di Quora.

Konten Youtube juga ramai di Facebook, namun tidak sebaliknya.

Untuk motivasi yang mungkin sama, saya rasa keduanya bisa saling bersinergi.

Ada AdBreak di Facebook dan AdSense di Youtube, ya keduanya sama sama ntuk mencari…ehm… cuan.

Apa sih yang membuat Prank, dan ribut ribut re-post konten ini terjadi?

apa yang memotivasi mereka untuk melakukannya?

Viralitas dan (mungkin) Monetisasi?

Menemukan pembenaran untuk beberapa tindakan di atas sepertinya cukup sulit kalau bukan viralitas.

Ya, konten-konten yang sengaja dibuat seperti itu cenderung berujung pada viralitas.

Supaya ramai interaksi.

Supaya banyak orang yang nantinya mengikuti akun sosial media Anda.

Pada level yang lebih tinggi, konten viral seperti itu akan mendatangkan keuntungan yang banyak bagi si pemilik konten.

Ya, AdSense, Endorsement, dan sebagainya cukup membuat semua orang melakukan segala cara untuk menarik orang lain yang akan menjadi “nilai jual” nya..

Termasuk diantaranya membuat sesuatu yang sensasional.

Uniknya, memang tidak bisa dipungkiri.

Semua sosial media dengan berbagai macam karakter netizen di dalamnya, memiliki motivasi yang sama.

Berujung pada viralitas dan monetisasi.

Apakah cara tersebut dibenarkan dengan alasan demi konten?

Kalau Anda menggelengkan kepala pertanda tidak setuju, apa yang akan Anda lakukan?

Membiarkannya begitu saja?

Melaporkannya?

Terus Apa?

Saya mengajak Anda untuk menjadi bagian dari perubahan.

Orang -orang yang “menyukai” konten viral seperti itu mungkin adalah orang yang minim konten berkualitas.

Saya tahu Anda punya sesuatu yang ingin Anda bagikan.

Entah ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak, pengalaman positif, pelajaran dari sebuah pengalaman, dan banyak hal lainnya.

Saya tahu Anda ingin bermanfaat untuk orang lain.

Saya tahu mungkin Anda geram dengan konten konten yang minim manfaat seperti itu.

Saya tahu mungkin Anda ingin berbuat sesuatu untuk mengakhiri ketidakjelasan ini.

Mungkin cukup naif saya katakan, tapi Dunia ini menanti Anda.

Mungkin 1 tulisan Anda akan merubah persepsi orang lain menjadi lebih baik.

Mungkin 1 konten Podcast atau 1 video Youtube anda bisa merubah kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

dan mungkin 1 konten Anda akan merubah hidup Anda selamanya.

Tidak perlu lagi bicara nanti.

Waktunya adalah hari ini.

Sekarang !

dan terima kasih sudah berbuat sesuatu untuk kehidupan ini.

Merasa Terbantu? Share lah, kasih tau yang lain jangan pelit pelit :