fbpx
Willy Pujo Hidayat

Sisi Gelap Hari Raya Lebaran (Iya banget)

Dibalik THR yang ditunggu tunggu, dibalik gemercik suara kuah opor dan ketupat, dibalik semua kegempitaannya, hari raya lebaran itu tetap memiliki sisi gelap.

Setelah berpuasa menahan lapar dan haus selama lebih dari 12 jam sehari selama 1 bulan, maka tibalah masa dimana kita diharamkan untuk berpuasa di hari itu.

Hari yang banyak semua orang berjuang untuk bisa merayakannya di tempat kelahirannya.

Saat karyawan senang akan hadirnya THR, saat anak anak senang mendapatkan amplop lebaran, disaat ibu ibu senang mengenakan jilbab cetar membahana terbarunya, hari itu memiliki sisi yang cukup dihindari.

Ya, hari raya yang ternyata tidak keseluruhan elemennya disukai, namun ada yang dihindari.

Apa itu? dan kenapa dia dihindari?

Sisi Gelap Hari Raya Lebaran

Hari raya lebaran adalah hari yang baik, hari yang fitri, dimana kalau kita berpuasa dengan baik, maka kita bisa mendapati dosa dosa kita terdahulu dihapuskan.

Kembali suci dari dosa sebagaimana bayi baru dilahirkan.

Sanak saudara dari semua penjuru daerah datang berkumpul di rumah tempat masa kecil mereka tinggal.

Bude, Pakde, Om, Tante, Mbah, Eyang, Paklik, Buklik, Opung, Tulang, Uda dan semua orang berkumpul saling berjumpa.

Selepas solat Ied mereka semua bersalaman dan menikmati santapan khas lebaran.

Nah inilah sisi gelap itupun muncul dari percakapan ini.

Kapan Nikah ?

Iya ini pertanyaan paling standar yang bahkan mungkin sudah anda buat template jawabannya kalau pertanyaan tersebut ditembakkan ke anda yang masih melajang.

Ini adalah sisi gelap hari raya lebaran nomer wahid yang paling banyak terjadi.

Sebetulnya pertanyaan ini tidak melulu buruk dan menyakitkan untuk didengar, mungkin ini adalah rasa kepedulian yang saudara anda tunjukkan kepada anda.

Mereka ingin anda segera menikah, menunaikan sunnah Nabi tersebut.

Tapi tidak semua orang bisa menanggapi hal itu dengan sudut pandang yang positif.

Kenyataannya mereka justru merasa rendah diri untuk menghadapi situasi tersebut.

Apakah yang pria tidak sedang berusaha mencari wanitanya?

dan apakah yang wanita tidak sedang memberikan isyarat ke pria yang disukainya?

Pada akhirnya semua ingin menghabiskan hidupnya bersama orang yang dicintainya.

namun mungkin belum saatnya.

Apakah anda tau berapa malam yang mereka (single) lewati dengan berdoa, bersujud kepada-Nya ?

Apakah anda tau berapa banyak air matanya keluar agar Allah mempertemukannya dengan seorang yang ingin menerima dia apa adanya?

Ya, anda tidak tau !

Kemudian anda bertanya ‘kapan nikah?’ tentunya itu cukup menyakitkan mereka.

Mungkin ada yang menutupinya dengan tertawa, menutupinya dengan berseda gurau dengan lelucon lelucon ala dad jokes, dsb.

Tapi di dalam lubuk hatinya yang terdalam mereka cukup sedih mendengarnya.

Pada level yang sudah ekstrem, mereka cenderung cuek atau mengabaikan pertanyaan tersebut, dianggap angin lalu.

Dan pada level radikal, mereka akan mengembalikan pertanyaan tersebut, dan menjadi counter attact untuk anda.

ditanya : “Umur kamu udah cukup tuh, kapan nikah?”

dijawab : “umur om juga udah cukup tuh, kapan mati?”

Sumpah saya menemukan jawaban itu di sosial media, dan jawaban itu cukup mecengangkan saya, sekaligus lucu tentunya.

Kapan Lulus?

Baik, secara tahapan mungkin seharusnya ini ada di posisi pertama, tapi ada banyak hal yang membuat sisi gelap dari pertanyaan ini terampuni.

Para Mahasiswa yang sudah menjadi pemegang saham di kampusnya, kapan anda lulus?

Ya mereka adalah pemegang saham, kenapa?

Mereka kontributor income yang baik bagi kampus !

atau mungkin anda masuk kuliah di tempat yang cukup ketat seleksinya (susah masuknya), maka mungkin anda sayang untuk bersegera meninggalkan kampus yang sudah anda perjuangkan, tidak apa.

Kehidupan anda akan tetap berjalan, dan semua hal yang terlihat baik baik saja itupun seperti sangat buruk ketika peertanyaan kapan lulus dimuntahkan.

Konteksnya sama seperti Kapan nikah, anda (mahasiswa tercinta) tentunya anda pun berjuang untuk menyelesaikannya bukan?

Untuk anda yang gatal bertanya kapan lulus, sekali lagi saya tanyakan apakah anda tau perjuangan mereka?

Mungkin mereka apes mendapatkan dosen yang sulit untuk diajak bekerjasama.

atau mungkin sedang kehabisan modal untuk penelitian yang tidak murah.

dan lain sebagainya.

apakah anda tau mereka juga menghadapi tekanan psikologis yang sama ketika melihat temannya lulus?

Ya, tentu tidak !

Anda hanya mau mereka sukses sesuai dengan terminologi sukses anda !

faktanya ada orang yang tidak lulus kuliah justru sukses dengan bisnisnya, dan memperkerjakan orang orang yang lulus kuliah 2 kali (S2).

Masuk Kampus Mana?

Masuk unversitas ternama adalah keharusan bagi sudut pandang orang yang memaksakan sukses menurut definisinya.

Anda masuk kampus non-negeri?

Fix, anda gagal, anda tidak punya masa depan, kehidupan anda akan suram !

Menurut mereka.

Banyak anak yang berharap dirinya sakit saat hari raya untuk menghindari pertanyaan tersebut.

Serius !

Seperti biasa, para penanya juga tidak mengetahui betapa kerasnya mereka belajar untuk ujian.

Betapa mereka lelah dengan bukunya.

Betapa mereka menangis setiap malam untuk berharap Tuhannya memberikan jawaban atas doanya.

Tidak kah cukup pahit perjuangannya?

Kerja Dimana Sekarang?

Tunggu, apa sisi gelap dari pertanyaan ini?

Bayangkan anda di posisi ini :

  • baru lulus kuliah
  • Udah 1 tahun menganggur
  • Anda seorang pedagang yang omsetnya masih bertumbuh
  • anda baru resign
  • dsb

Ditambah lagi dengan peryataan pendukung yang membuatnya korban lebih tersayat hatinya, seperti ini :

  • ..Si Joni, anak saya udah jadi PEENES.
  • .. Si Juki udah jadi manajer.
  • .. Si Mahmut baru lulus udah dapet kerja tuh
  • .. Si Kentung sekarang lagi di luar negeri, kerjaan dinas dari kantor tuh.

Ya, dan lagi anda tidak tau apa yang sudah mereka lakukan untuk berusaha menjawab pertanyaan tersebut.

Ok, jangan suudzon dulu, mungkin maksudnya baik, ingin memberikan peluang kerja di tempat yang dia kenal.

Tidak juga? baik, anda (yang ditanya) sudah cukup dipermalukan.

Mobilnya Mana?

Boleh disudahi belum ya tulisan ini? saya sudah cukup emosi jeewa !

Anda tau bahwa pertumbuhan pembelian mobil meningkat saat lebaran?

Sisi gelap hari raya lebaran

Baik itu baru maupun bekas !

Baik itu cash maupun ngutang !

Baik itu mobil beli atau curian !

untuk apa ?

Berusaha untuk bisa menjawab pertanyaan yang sama sekali tidak memiliki manfaat tersebut.

Cukup !

Saya sudah tidak tahan untuk menulis semuanya !

akar permasalahannya adalah kurangnya empati ! bahasa lainnya adalah kecerdasan emosional anda kurang dilatih.

Ya kecerdasan terdiri dari kecerdasan intleketual da kecerdasan emosional, dan taukah anda keduanya bersinergi untuk membentuk perilaku anda?

Biasaken bertanya dalam hati terlebih dahulu :

  • Apakah kalau saya bertanya begini tidak apa apa?
  • Apakah pertanyaan ini bisa melukai hatinya?
  • Apakah ini ..
  • Apakah itu ..
  • dsb

Pertimbangkan baik baik !

Sesuatu yang menurut anda “ah itukan pertanyaan biasa“.

Bisa jadi luka berbulan bulan bagi yang tidak mampu mengelolanya dengan bijak.

Ganti Dengan ..

Mendoakannya !

Tapi gimana mendoakan kalau kita tidak bertanya kondisi nya sekarang?

dan saya juga ragu :

“Apakah anda betul betul mendoakan dengan tulus saat tau kondisinya?”

atau

Apakah ada jaminan anda ‘hanya sekedar mendoakannya’ ?

Inilah pentingya sinergisme kecerdasan emosional dan intelektual.

Melihat saudara anda menghadiri momen hari raya lebaran sendiri, tidak perlu ditanya kapan nikah?

ganti pertanyaan anda dengan doa :

“Semoga lekas diberikan jodoh yang baik ya”

anda melihat sudara anda dandanannya masih kucel, belum mendapat pekerjaan, ganti pertanyaan kerja dimana sekarang menjadi doa :

“Semoga lekas mendapat pekerjaan yang sesuai ya”

Kemudian anda mendapati saudara anda masih belum menggunakan mobil, dalam artian kondisi ekonominya belum begitu baik, ganti pertnayaan mobilnya mana dengan doa :

“Semoga ditambah ya rezekinya”

Apa sish susahnya?

Secara emosional mereka, para korban pertanyaan, akan merasa mendapat dukungan emosional.

Mungkin dengan doa anda mereka jadi lebih giat berdoa, lebih giat belajar dan berusaha.

Akan memberikan dampak yang positif dan Insya Allah akan mendapati hasil yang baik pula.

Bukankah hidup ini lebih indah kalau kita saling mendoakan satu dengan yang lain?

Wallahu a’lam,

Facebook Comments
Merasa Terbantu? Share lah, kasih tau yang lain jangan pelit pelit :
error0