fbpx
Willy Pujo Hidayat

Kopinya Terlalu Banyak Jiwa

Kalau Anda diminta untuk menyebutkan satu nama merek toko kopi (termasuk kopi susu kekinian), maka apa yang mungkin terlintas di benak Anda?

Terlepas dari beberapa nama  toko kopi lokal super cozy yang sering Anda kunjungi dekat rumah atau kantor, pasti ada salah satu toko kopi yang mereknya sudah cukup dikenal.

Kemungkinan salah satunya ada Starbucks, Excelso, Kopi Kenangan, atau bahkan Janji Jiwa.

Benar begitu?

Toko Kopi terkenal - persaingan model bisnis toko kopi kekinian

Tidak salah juga, karena memang keberadaan beberapa toko kopi tersebut tersebar khususnya di tempat tempat yang mungkin cukup sering kita jumpai.

Bahkan mungkin kita bisa menyebutkan salah satu dari beberapa menu andalan yang mereka tawarkan, misal :

  • Kopi kenangan mantan
  • Kopi janji jiwa
  • Es kopi susu tetangga
  • dsb

Beberapa menyebutnya dengan istilah : Es Kopi Susu Kekinian

Ya, es kopi susu kekinian merupakan minuman kopi perpaduan antara kopi (biasanya lebih banyak arabica-nya) ditambah susu, dan tentunya gula aren.

Kopi susu gula aren ini menjadi trend yang belakangan ini cukup digemari oleh para penikmat kopi pemula, khususnya anak anak muda.

Pertanyaannya, kenapa harus gula aren?

Pionir Kopi Susu Gula Aren

Salah satu orang yang bisa dibilang cukup bertanggung jawab terhadap trend penggunaan gula aren di kopi yaitu Andanu Prasetyo.

Beliau dikenal sebagai pionir  pengguna gula aren pada minuman es kopi susu untuk menambah rasa manis.

Alih alih menggunakan gula biasa, Mas Andanu lebih cenderung menggunakan gula aren.

Katanya beliau terinspirasi dari beberapa jajanan lokal, khususnya cendol yang menggunakan gula aren.

Setelah melewati fase uji coba, Kopi Tuku akhirnya lahir dengan signature coffee nya yaitu Es Kopi Susu Tetangga yang tentunya bersenjatakan kopi arabika dan gula aren.

Kopi tuku merupakan pencetus kopi susu gula aren - persaingan model bisnis toko kopi kekinian
Pionir Kopi Susu Gula Aren (kekinian)

Kopi tuku mencetak laba ratusan juta per bulannya, dan menjual ratusan bahkan ribuan gelas kopi per harinya.

Hal tersebut dianggap sebagai peluang oleh beberapa toko kopi lain, yang sudah menilai bahwa kopi susu dengan gula aren sudah menjadi trend.

Mereka mulai membuat signature coffee nya sendiri yang mungkin bisa dibilang terinspirasi dari Es Kopi Susu Tetangga tersebut.

Akhirnya kedai kedai kopi mulai banyak bermunculan dan menawarkan menu andalannya.

Nama nama toko kopi susu kekinian - persaingan model bisnis toko kopi kekinian
Toko Kopi Kekinian Bermunculan

Termasuk salah satunya yaitu kopi kopi kekinian yang di awal Anda sebutkan tersebut.

Ragam Toko Kopi Kekinian

Sebagai pionir kopi susu gula aren, Kopi Tuku mungkin tidak puas kalau hanya dengan satu cabang di Cipete saja.

Akhirnya mereka (sampai tulisan ini dibuat) membuat 11 cabang yang tersebar di sekitaran Jakarta.

Sayangnya, sebagai pionir, jumlah 11 tersebut bisa dibilang terlampau jauh di belakang dibanding toko kopi susu kekinian lainnya.

Urutan nama nama toko kopi berdasarkan jumlah outlet di Indonesia - persaingan model bisnis toko kopi kekinian
Peringkat Toko Kopi berdasarkan jumlah outlet

Ya, Toko Kopi Janji Jiwa yang sejauh ini memimpin jumlah outlet atau cabang di seluruh Indonesia dengan total 800 outlet.

Mengalahkan jumlah Outlet Mc Donald di seluruh Indonesia yang totalnya hanya 200 outlet.

Luar biasa !

Kualitas Rasanya

Setiap segelas kopi memiliki ceritanya sendiri bagi si pembuatnya.

Karena itu umumnya kopi itu mewakili citarasa si kedai yang juga memiliki kisahnya sendiri.

Membahas rasa mungkin akan menghasilkan bias, karena mungkin kita sudah terpengaruh emosi yang diciptakan oleh salah satu brand tertentu.

Blind test mungkin bisa menjadi salah satu alternatif cara untuk kita membedakan kualitas rasa dari setiap brand tersebut.

Ada sebuah video menarik yang mempertemukan banyak brand kopi kekinian dan diuji tanpa mereka ketahui apa nama brandnya.

Dari hasilnya, ternyata Juara satunya yaitu Sang Pionir, Kopi Tuku.

Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Kopi Kenangan dan Kopi dari Family Mart.

Iya, Family mart !

Ha ha ha

Bahkan ada statement menarik dari si Barista yang mereview pada video tersebut, yang menyebutkan kalau ada salah satu brand kopi yang menggunakan kopi yang lama, dan kurang fresh.

Menarik ya?

Siapa dia?

Silakan lihat sendiri videonya

ha ha ha

Perbedaan Model Bisnis

Sebagai seorang pebisnis, memahami sebuah model bisnis itu bagi saya merupakan sebuah skill yang fundamental.

Mengetahui bagaimana bisnis ini berjalan, siapa marketnya, dari mana mereka mendapatkan keuntungan merupakan hal yang sangat menarik untuk dibahas dan dikembangkan.

Seperti pada topik kali ini, dimana saya mempertemukan toko kopi kekinian dengan jumlah outlet terbanyak dengan pionir toko kopi kekinian.

Keduanya memiliki perbedaan model bisnis yang bisa dibilang cukup signifikan.

Janji jiwa (paling tidak dalam analisa saya) menjadikan kopi sebagai media untuk menjual franchise-nya.

Business model canvas janji jiwa - persaingan model bisnis toko kopi kekinian
Model Bisnis Janji Jiwa

Karena ini franchise, Anda pun bisa memiliki kedai Janji Jiwa dengan sejumlah biaya yang harus Anda bayarkan.

Sebanding?

Seharusnya iya, karena brand-nya sudah ada, semua perlengkapan sudah siap, Anda tinggal me-maintain  penjualan dan kualitas pelayanan saja.

Cuma mungkin Anda perlu sedikit lebih dalam merogoh kantong Anda untuk bisa memiliki Janji Jiwa.

Dan selamat, Anda menjadi bagian dari target 1000 outlet  Janji Jiwa sesuai visi mereka.

Kalau ditinjau dari skalabilitasnya, maka Janji Jiwa memang concern untuk memperbanyak jaringan caban.

Meminjam istilah dari Techinasia, konsep seperti ini disebut sebagai “The Future of New Retail

Janji jiwa bahkan bisa menjual jutaan gelas kopi perharinya dari keseluruhan outletnya.

Berbeda dengan Tuku yang justru tidak ingin di-franchise kan oleh Mas Andanu.

Menurut Tuku, ada banyak value yang dikemas dari segelas Kopi Tuku.

Bagi saya, statement seperti itu mungkin terlihat tidak terlalu ambisius, agak cliche, namun tentunya keinginan untuk mempertahankan konsistensi seperti itu sepertinya perlu diapresiasi.

Merujuk kembali ke model bisnis, Tuku mungkin bisa dibilang lebih tradisional, karena memang menjual makanan, minuman dan juga merchandise.

Business Model Canvas kopi tuku - persaingan model bisnis toko kopi kekinian
Business Model Canvas kopi Tuku

Terjaganya value atau kualitas dari Tuku membuat toko kecil di Cipete dan sejumlah cabang itu masing masing bisa menjual ribuan gelas perharinya.

Skalabilitas Tuku bisa dengan memperbanyak varian produk makanan, minuman, serta merchandise yang dijual.

Cons

Franshise tentunya memiliki resiko yang tidak kecil.

Baik itu dari si pemilik merchant, maupun dari si pemilik brand.

Menjaga kualitas produk dan layanan adalah tugas berat yang harus sudah matang secara konsep dan implementasi.

Karena mempercayakan sebuah entitas kepada orang lain yang mungkin memiliki perbedaan visi mungkin akan berdampak kurang baik bagi kedua belah pihak.

Mungkin cukup umum kita temui sebuah entitas franchise yang sama, namun di cabang yang berbeda, akan menghasilkan rasa dan mungkin juga layanan yang berbeda.

Ya, lagi, konsistensi menjadi kunci.

tantangan membuka toko kopi franchise
Tantangan membuat kedai kopi franchise

Karena kalau tidak kedua belah pihak akan mengalami kerugian, pemilik merchant akan mengalami penurunan penjualan, dan pemilik brand akan kehilangan kepercayaan.

Di sisi lain, menjual satu Signature product, tentunya, sama sekali, bukan hal yang buruk.

Namun, apakah tidak menutup kemungkinan produk yang sudah cukup banyak diduplikasi ini akan mengalami saturasi?

Baik, divisi riset dan pengembangan untuk sebuah toko kopi mungkin tidak umum, namun mungkin Tuku perlu mempertimbangkan hal ini.

Business Model Canvas kopi tuku
Tantangan membuka kedai kopi reguler

Bekerja keras untuk membuat varian lain yang juga akan meledak mungkin perlu menjadi exit strategy bagi tuku untuk keluar dari kompetisi “jumlah outlet” ini.

Ya, walaupun kita semua tahu kalau Tuku bukan “pemain” dari kompetisi untk segmentasi ini.

Legenda !

Kesimpulan

Kopi tetaplah kopi, yang pahit dan hitam.

Namun dengan kacamata yang berbeda, dia bisa mendatangkan manisnya keuntungan.

Cara memperbesar bisnis ada banyak sekali ragam.

Dari yang memperbanyak cabang, sampai meningkatkan retensi pelanggan.

Ada yang bermimpi punya 100 outlet di setiap keramaian, ada yang bermimpi ada 100 pembelian di setiap jam.

Melihat kopi dari sudut pandang bisnis memang sarat dengan kreatifitas dan pengembangan rasa.

Dari kenangan yang tak terlupa, kehangatan tetangga, sampai cinta.

Latte art
Kopi Penuh Cinta

Namun sepertinya kini kopi terlalu banyak jiwa?

Apakah memang begitu cara kita menikmatinya?

Merasa Terbantu? Share lah, kasih tau yang lain jangan pelit pelit :
Topik
Partnership
Ngobrol
Podcast