fbpx
Willy Pujo Hidayat

Pemimpin dari Lapangan

Dalam bisnis atau mungkin dalam ruang lingkup organisasi kita mungkin akan menemukan dua orang yang saling berbeda.

Satu orang sangat ahli dalam melakukan pekerjaan lapangan, dan yang lainnya memiliki kemampuan manajerial dan lobi lobi yang menarik.

Secara karakteristik keduanya sedikit berbeda.

Orang yang cenderung aktif dan mahir mengerjakan pekerjaan teknis lapangan adalah orang yang siap untuk memeras keringat untuk mencapai apa yang ia inginkan.

Sedangkan orang yang memiliki kemampuan manajerial umumnya pemikir, dan mungkin cenderung malas untuk berlelah-lelahan berkeringat.

Sehingga dia lebih cenderung untuk berpolitik untuk mencapai apa yang ia inginkan.

Bukan, bukan dalam sudut pandang yang negatif, karena politik tidak melulu tentang sebuah perebutan kekuasaan semata.

Terlepas dari itu, pemimpin yang lahir dan besar di lapangan bukan berarti tidak bisa masuk ke ranah manajerial.

Seperti dua mata pedang, dia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih baik lagi, atau justru menurunkan performanya.

Kaya Empati

Mungkin beberapa pemimpin hanya lahir dari uang.

Mereka memiliki modal yang besar, punya plan atau relasi yang baik, akhirnya merekrut orang untuk mengerjakan proyek yang mungkin saja tangannya tidak pernah kotor karena hal yang sama.

Mungkin sulit baginya untuk mengukur beban kerja dan harga keringat yang nantinya akan dilakukan oleh timnya.

Pemimpin dari lapangan cenderung kaya empati.

Mereka bisa mengerti beban kerja yang akan dilakukan oleh timnya, karena dia pernah ada di sana.

Sehingga mungkin dia lebih memahami timnya dengan baik, bahkan bisa lebih menyentuh permasalahan dengan baik.

Sehingga mungkin banyak pelanggan yang merasa terbantu karena pelanggan merasa mereka berempati padanya.

Membawa lapangan ke atas meja?

Lapangan tetaplah lapangan sedangkan meja tetaplah meja.
Satunya penuh dinamika dan yang satunya statis, nyaris tak bergerak.

Mata pedang kedua dari pemimpin yang lahir dari lapangan berawal sejak dia harus menghentikan larinya, dan diam di belakang meja.

Jiwanya di lapangan, namun tubuhnya kaku tak bergerak.

Penting baginya untuk belajar bagaimana mengkonversi strategi lapangan menjadi sebuah konsep yang tersurat di atas kertas.

Ya, dia harus mengakrabkan dirinya dengan kertas yang berisi informasi informasi yang mungkin bisa dia terapkan untuk dia dan timnya.

Tidak, tidak bisa dia bersinggungan lagi dengan urusan lapangan (micro-management).

Ya, sepertinya dia tidak bisa lagi membawa lapangan ke atas meja kerjanya.

Kemampuan baru yang harus dimiliki adalah memisahkan lapangan dan meja.

Kalau tidak bisa melakukannya, maka mata pedang yang kedua itupun akan terhunus untuknya.

Beririsan

Meja kerja bukan hanya sebagai objek untuknya bekerja.

Lebih dari itu, meja adalah sebuah platform yang mampu membuat pemimpin dari lapangan itu mencapai apa yang dia inginkan.

Ya, berada di belakang meja membuatnya kini berisisan dengan banyak segmentasi pelanggan.

Bukan hanya pelanggan eksternal, bahkan termasuk pelanggan internal yang akan membantu kita dalam menyelesaikan permasalahan kita.

Irisan ini yang nantinya membuat sang pemimpin ini mampu untuk memberikan dampak ke semua elemen.

Pengetahuannya tentang teknis di lapangan, serta analisis menajerial yang baik adalah salah satu irisan yang cukup mematikan.

Anda sependapat?

Merasa Terbantu? Share lah, kasih tau yang lain jangan pelit pelit :